Oleh: Imam Supriyono*
Baru saja harga BBM naik lebih dari 25%. Masyarakat terkejut. Demo pun marak. Masyarakat tidak siap. Mengapa setiap kenaikan BBM (dan harga barang-barang lain) selalu terjadi demikian? Bukankah kenaikan harga barang apapun sudah merupakan peristiwa yang biasa? Bukankah krisis atau resesi adalah sesuatu yang selalu terjadi dan terjadi?
Tidak berbeda dengan gelombang laut yang tidak pernah berhenti. Bukankah Allah swt. Selalu mempergilirkan nasib manusia dan bangsa-bangsa dengan pergerakan seperti ini? Bukankah Dia pula yang menciptakan siang-malam, sakit-sembuh, kurus-gemuk, tinggi-rendah, dan bahkan hidup dan mati ini untuk menguji siapa yang terbaik amalannya?
Bukankah iman pun yaziidu wa yanqus? Iman pun naik dan turun? Berubah? Perubahan adalah sunnatullah. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Satu-satunya yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Lalu, mengapa harus bingung? Mengapa tidak bersiap?
Rumus
Nabi Yusuf as pernah memberi contoh luar biasa. Masih tentang perubahan. Dengan ilmu dari-Nya, pemberitahuan itu diberitahukan lewat mimpi Raja. Tujuh ekor sapi gemuk-gemuk dan tujuh ekor sapi kurus-kurus. Tujuh tahun hasil panen melimpah (tentu saja harga makanan murah) diikuti dengan tujuh tahun paceklik (tentu saja harga makanan naik drastis).
Apa yang dilakukan Nabi Yusuf as? Sederhana tapi manajemen banget. Pada saat tujuh tahun produk melimpah, masyarakat dibimbing bergaya hidup paceklik. Kelimpahan hasil panen tidak dihabiskan. Dimakan secukupnya (bahkan mungkin asal tidak mati saja). Kelebihannya disimpan.
Bagaimana ketika masa paceklik terjadi? Santai saja. Bahkan pemerintah dengan Nabi Yusuf as sebagai menteri ekonomi bisa membantu mereka yang tidak siap. Saudara-saudaranya yang mencelakakannya pun dibantu.
Apa hikmahnya? Bagi orang yang siap, masa paceklik, kenaikan harga, atau krisis justru momen untuk meraih keunggulan. Keunggulan dalam persaingan ekonomi dengan pihak lain. Juga keunggulan untuk menolong orang lain yang tidak siap. Jadi, tidak perlu takut dengan resesi, krisis, kenaikan harga atau apapun namanya. Inilah kesempatan terbaik. Yang penting siap.
Masih belum yakin? Lihatlah orang-orang Timur Tengah. Merekalah yang siap. Mereka menjadi ‘Nabi Yusuf’ modern. Kini mereka bergelimang uang minyak. Luar biasa kaya. Hotel tertinggi di dunia dibangun di
Bagaimana ‘menjadi’ Nabi Yusuf dalam hidup keseharian? Rumusnya sederhana. Rumus ini dituliskan oleh Richard Mitz dengan angka tegas:
Tentang zakat, infak dan shodaqoh pada sepuluh persen pertama ikhlaskan sepenuhnya. Jangan hitung lagi nanti mau dapat ganti atau tidak. Apalagi sampai mengharapkan ganti (duniawi) yang lebih banyak. Cukuplah serahkan dengan ikhlas sepenuhnya kepada Sang Khalik. Lillahi ta’ala.
Sepuluh persen kedua tabunglah. Kumpulkan dari bulan ke bulan untuk diinvestasikan. Tentu saja menunggu peluang investasi yang tepat. Bentuknya? Bisa beli rumah untuk disewakan, rumah kos dekat kampus, ruko di pusat bisnis untuk disewakan, kambing atau sapi dititpkan di desa-desa dengan sistem bagi hasil, saham pada usaha sahabat yang terpercaya, dan sejenisnya.
Sepuluh persen pertama dan kedua ini dipertahankan dengan komitmen total. Komitmen mati. Tidak diutak-atik. Tidak ada kompromi. Apapun yang terjadi. Sisanya, delapan puluh persen, silakan dipakai untuk apa saja dalam kehidupan keseharian. Makan, berpergian, rekreasi, pendidikan anak, asuransi jiwa, arisan, beli motor atau mobil, memperbaiki rumah tinggal, beli baju, dan sejenisnya. Sepuasnya.
Mungkin Anda segera membantah. Bukankah rezeki sudah ditentukan oleh Allah swt.? Kalau memang sudah rezeki, krisispun kita akan selamat! Buat apa menabung? Buat apa berinvestasi? Bukankah itu menunjukkan sikap tidak pasrah pada ketentuan dan takdir-Nya?
Rumus
Pameo Apa Kata Nanti
Kapan boleh tanpa planning? Kapan boleh tanpa manajemen? Pada saat Anda hidup sendiri. Kira-kira seperti Abu Hurairah ra. Seorang sahabat Nabi saw. yang tinggal di masjid. Tanpa anak tanpa istri. Kalau tidak ada makanan ia puasa.
Seorang pemuda yang menikah berarti merencanakan bahwa tujuh tahun lagi akan membayar uang pangkal sekolah dasar. Pada saat itu, si buah hati tidak mau dan tidak akan bisa ditunda masuk SD tahun depan. Harus sekarang.
Anda nekat menjalani hidup tanpa planning? Nekat tanpa manajemen? Ngglundung semprong? Ikut apa kata nanti? Berarti Anda mau lebih bertaqwa dari Nabi Yusuf as? Yang benar aja…
*Konsultan strategic finance pada SNF Consulting
