Rabu, 02 Juli 2008

Lebih Bertaqwa dari Nabi Yusuf?

Oleh: Imam Supriyono*


Baru saja harga BBM naik lebih dari 25%. Masyarakat terkejut. Demo pun marak. Masyarakat tidak siap. Mengapa setiap kenaikan BBM (dan harga barang-barang lain) selalu terjadi demikian? Bukankah kenaikan harga barang apapun sudah merupakan peristiwa yang biasa? Bukankah krisis atau resesi adalah sesuatu yang selalu terjadi dan terjadi?


Tidak berbeda dengan gelombang laut yang tidak pernah berhenti. Bukankah Allah swt. Selalu mempergilirkan nasib manusia dan bangsa-bangsa dengan pergerakan seperti ini? Bukankah Dia pula yang menciptakan siang-malam, sakit-sembuh, kurus-gemuk, tinggi-rendah, dan bahkan hidup dan mati ini untuk menguji siapa yang terbaik amalannya?


Bukankah iman pun yaziidu wa yanqus? Iman pun naik dan turun? Berubah? Perubahan adalah sunnatullah. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Satu-satunya yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Lalu, mengapa harus bingung? Mengapa tidak bersiap?


Rumus 10-10-80

Nabi Yusuf as pernah memberi contoh luar biasa. Masih tentang perubahan. Dengan ilmu dari-Nya, pemberitahuan itu diberitahukan lewat mimpi Raja. Tujuh ekor sapi gemuk-gemuk dan tujuh ekor sapi kurus-kurus. Tujuh tahun hasil panen melimpah (tentu saja harga makanan murah) diikuti dengan tujuh tahun paceklik (tentu saja harga makanan naik drastis).


Apa yang dilakukan Nabi Yusuf as? Sederhana tapi manajemen banget. Pada saat tujuh tahun produk melimpah, masyarakat dibimbing bergaya hidup paceklik. Kelimpahan hasil panen tidak dihabiskan. Dimakan secukupnya (bahkan mungkin asal tidak mati saja). Kelebihannya disimpan.


Bagaimana ketika masa paceklik terjadi? Santai saja. Bahkan pemerintah dengan Nabi Yusuf as sebagai menteri ekonomi bisa membantu mereka yang tidak siap. Saudara-saudaranya yang mencelakakannya pun dibantu.


Apa hikmahnya? Bagi orang yang siap, masa paceklik, kenaikan harga, atau krisis justru momen untuk meraih keunggulan. Keunggulan dalam persaingan ekonomi dengan pihak lain. Juga keunggulan untuk menolong orang lain yang tidak siap. Jadi, tidak perlu takut dengan resesi, krisis, kenaikan harga atau apapun namanya. Inilah kesempatan terbaik. Yang penting siap.


Masih belum yakin? Lihatlah orang-orang Timur Tengah. Merekalah yang siap. Mereka menjadi ‘Nabi Yusuf’ modern. Kini mereka bergelimang uang minyak. Luar biasa kaya. Hotel tertinggi di dunia dibangun di sana. Dubai disulap menjadi kota hebat kelas dunia. Kalau mau, mereka pun bisa menolong siapa saja.


Bagaimana ‘menjadi’ Nabi Yusuf dalam hidup keseharian? Rumusnya sederhana. Rumus ini dituliskan oleh Richard Mitz dengan angka tegas: 10-10-80. Maksudnya, berapapun pendapatan Anda tiap bulan, alokasikan dengan rumus ini. Sepuluh persen pertama alokasikan untuk social keagamaan (zakat, infak, shodaqoh). Sepuluh persen kedua untuk tabungan investasi. Sisanya, delapan puluh persen untuk kebutuhan keseharian.


Tentang zakat, infak dan shodaqoh pada sepuluh persen pertama ikhlaskan sepenuhnya. Jangan hitung lagi nanti mau dapat ganti atau tidak. Apalagi sampai mengharapkan ganti (duniawi) yang lebih banyak. Cukuplah serahkan dengan ikhlas sepenuhnya kepada Sang Khalik. Lillahi ta’ala.


Sepuluh persen kedua tabunglah. Kumpulkan dari bulan ke bulan untuk diinvestasikan. Tentu saja menunggu peluang investasi yang tepat. Bentuknya? Bisa beli rumah untuk disewakan, rumah kos dekat kampus, ruko di pusat bisnis untuk disewakan, kambing atau sapi dititpkan di desa-desa dengan sistem bagi hasil, saham pada usaha sahabat yang terpercaya, dan sejenisnya.


Sepuluh persen pertama dan kedua ini dipertahankan dengan komitmen total. Komitmen mati. Tidak diutak-atik. Tidak ada kompromi. Apapun yang terjadi. Sisanya, delapan puluh persen, silakan dipakai untuk apa saja dalam kehidupan keseharian. Makan, berpergian, rekreasi, pendidikan anak, asuransi jiwa, arisan, beli motor atau mobil, memperbaiki rumah tinggal, beli baju, dan sejenisnya. Sepuasnya.


Mungkin Anda segera membantah. Bukankah rezeki sudah ditentukan oleh Allah swt.? Kalau memang sudah rezeki, krisispun kita akan selamat! Buat apa menabung? Buat apa berinvestasi? Bukankah itu menunjukkan sikap tidak pasrah pada ketentuan dan takdir-Nya?


Rumus 10-10-80 adalah bagian penting dari manajemen. Rumus planning. Rumus perencanaan. Ini adalah salah satu kaki dari tiga kaki utama manajemen: planning, organizing, dan controlling. Merencanakan, melaksanakan, mengendalikan. Tanpa rumus ini sama dengan tanpa planning. Tanpa planning sama dengan tanpa manajemen. Planning tanpa dikerjakan juga bukan manajemen. Pelaksanaan planning selalu membutuhkan kontrol yang baik. Ketiganya persis seperi tiga kaki tripod penyangga kamera yang tidak berfungsi bila salah satu kakinya patah.


Pameo Apa Kata Nanti

Kapan boleh tanpa planning? Kapan boleh tanpa manajemen? Pada saat Anda hidup sendiri. Kira-kira seperti Abu Hurairah ra. Seorang sahabat Nabi saw. yang tinggal di masjid. Tanpa anak tanpa istri. Kalau tidak ada makanan ia puasa.


Seorang pemuda yang menikah berarti merencanakan bahwa tujuh tahun lagi akan membayar uang pangkal sekolah dasar. Pada saat itu, si buah hati tidak mau dan tidak akan bisa ditunda masuk SD tahun depan. Harus sekarang.


Anda nekat menjalani hidup tanpa planning? Nekat tanpa manajemen? Ngglundung semprong? Ikut apa kata nanti? Berarti Anda mau lebih bertaqwa dari Nabi Yusuf as? Yang benar aja


*Konsultan strategic finance pada SNF Consulting

Minggu, 23 Desember 2007

Pemanis Alami Bisa Tekan Bakteri Perusak Gigi

Gigi merupakan unsur utama saat mengunyah makanan. Namun, jika unsur utama ini mengalami gangguan, seperti gigi rusak atau berlubang, makanan pun akan sulit dicerna dengan baik. Karena itu, setiap orang disarankan untuk bisa merawat kebersihan dan kesehatan gigi dengan baik, terutama menggosok gigi setelah makan dan sebelum tidur.

Berbicara tentang kesehatan gigi atau penyebab gigi berlubang, Prof Dr Kauko K Makinen, Guru Besar Kedokteran Gigi Universitas Turku, Finlandia mengatakan, ada tiga faktor utama yang menyebabkan gigi seseorang berlubang, yaitu adanya bakteri Mutans Streptococci (Mutans S), karies, dan gula. ''Gigi berlubang disebabkan oleh ketiga faktor tersebut,'' ujar Makinen saat menjadi pembicara dalam diskusi sekaligus peluncuran produk Lotte dengan nama Xylitol, permen karet pertama untuk kesehatan gigi dan mencegah gigi berlubang, Kamis (1/3) di Jakarta.


Mutans S, kata Makinen, adalah biang dari semua penyebab kerusakan gigi. Bakteri ini, lanjutnya, timbul atau tinggal di dalam mulut setelah seseorang mengunyah makanan atau makanan ringan. Mutans S bekerja menyerap sisa gula yang tinggal dipermukaan dan di sela-sela gigi ketika seseorang menyelesaikan makan.


''Mutans S kemudian membentuk koloni di lapisan plak dan berkembang biak. Dialah yang memfermentasi gula menjadi senyawa asam. Lalu, senyawa asam secara perlahan menggerogoti lapisan email pelindung gigi sehingga terbentuklah lubang pada gigi,'' kata anggota Penelitian Kerusakan Gigi Eropa ini.


Untuk mencegah kerusakan atau terjadinya gigi berlubang, kata Makinen, dapat dilakukan dengan meningkatkan penggunaan Xylitol -- sejenis pemanis alami-- dalam sebuah produk minimal 50 persen dari keseluruhan kandungan pemanis. Xylitol terkandung dalam berbagai jenis serta kayu, seperti kayu pohon white birch, dan berbagai bahan makanan yang dikonsumsi manusia. Adapun sumber nutrisi yang tinggi kandungan Xylitol adalah plum, raspberi, stroberi, kembang kol dan bayam, yaitu sekitar 0,3-0,9 gram/100 gram.


Makinen menambahkan, pemanis alami (Xylitol) dapat menekan jumlah bakteri penyebab kerusakan gigi. ''Jika kandungan Xylitol memiliki atom karbon (pentitol) lebih sedikit, maka bakteri kariogenik yang menjadi penyebab kerusakan gigi seperti Mutans S tidak akan dapat berkembang biak. Karena pemanis yang terkandung di dalam berbagai serat tadi tidak disukai oleh bakteri Mutans S,'' ujarnya.


Selain mampu menekan jumlah bakteri, Xylitol juga dapat mencegah keasaman plak dan mempercepat proses pembentukan kembali mineral gigi. ''Jika kondisi karbohidrat di dalam mulut meningkat, dan pH plak gigi menurun, maka kondisi ini makin memperbesar terkikisnya mineral gigi,'' ujar Makinen. ''Selain dapat menetralisir keasaman plak, air liur juga berfungsi membentuk kembali lapisan mineral gigi yang terkikis oleh senyawa asam,'' jelasnya.


Sementara itu, Widijanto Sudhana, Dokter Gigi FKG Universitas Trisaksi menyebutkan, angka kerusakan gigi di Indonesia, berdasarkan survei kesehatan yang dilakukan Depkes RI pada tahun 2001 menemukan sekitar 70 persen penduduk Indonesia berusia 10 tahun keatas, pernah mengalami kerusakan gigi. Pada usia 12 tahun, jumlah kerusakan gigi mencapai 43,9 persen, usia 15 tahun mencapai 37,4 persen, usia 18 tahun sebanyak 51,1 persen, usia 35-44 mencapai 80,1 persen dan usia 65 tahun ke atas mencapai 96,7 persen.


Sumber: Republika Online,13/3/2007

Kamis, 29 November 2007

Menjaga Gigi si Kecil

Anak-anak kecil kita memang manis-manis dan menggemaskan, apalagi saat tersenyum lebar. Tapi, jika deretan gigi mungilnya berwarna coklat dan banyak lubang, penampilannya tentu kurang enak dilihat. Apa saja yang perlu Anda ketahui mengenai kesehatan gigi si kecil?

Umumnya, gigi pertama tumbuh saat anak mencapai usia 6 bulan, diawali oleh sepasang gigi seri bagian bawah.Proses ini akan berlangsung sampai semua gigi susu -yang berjumlah 20 buah- tumbuh lengkap ketika usia anak mencapai 30-36 bulan.

Menjaga Kebersihan Gigi
Begitu gigi pertama tumbuh, Anda sudah harus memperhatikan kesehatan mulut si kecil, terutama kebersihannya. Berikut adalah hal-hal yang perlu diketahui mengenai kebersihan gigi anak sesuai tahapan usia.

6 Bulan - 1 Tahun
Jumlah gigi yang tumbuh belum begitu banyak, maka cukup gunakan kain kasa lembut yang dililitkan di ujung jari telunjuk, lalu gosokkan ke gigi anak dengan lembut. Anda harus membersihkan giginya minimal sehari sekali.

1-3 Tahun
Jumlah gigi yang tumbuh mulai banyak. Jadi, Anda sudah bisa menggunakan sikat gigi. Pilihlah sikat gigi yang memiliki kepala sikat berukuran kecil serta bulu-bulu sikat yang lembut. Sikatlah gigi anak dua kali sehari, yakni di pagi hari serta malam sebelum tidur.

3-5 Tahun
Anda sudah bisa mengajarkan anak untuk menyikat gigi sendiri. Meskipun begitu, Anda harus tetap terlibat, jangan membiarkan anak menggosok gigi sendirian. Saat mengajarinya, lakukan dengan cara yang menyenagkan sambil sedikit bermain agar anak tidak merasa dipaksa. Ada banyak cara untuk mengajar anak menyikat gigi, seperti yang berikut ini:
  • Contohkan cara menyikat gigi dengan menggunakan boneka kesayangannya sebagai model.
  • Ajari anak menyikat gigi bersama. Mengingat anak akan belajar dengan cara meniru, minta dia untuk memperhatikan gerak-gerik Anda sewaktu menyikat gigi dan berkumur, lalu biarkan dia mempraktikannya sendiri.
  • Biarkan dia menyikat giginya sendiri di bawah pengawasan Anda. Setelah selesai, sikatlah gignya sembari mengajari seluk beluk cara menyikat gigi yang benar. Cara ini bisa membuat anak merasakan sendiri gerakan dan arah sikat gigi yang Anda gosokkan ke giginya.
5-6 Tahun
Di usia ini, anak sudah bisa dibiarkan menggosok gigi sendiri. Namun, jangan lupa untuk selalu mengingatkan dia agar rajin menggosok gigi, khususnya saat menjelang tidur. Karena pada saat tidur, produksi air liur lebih sedikit sehingga perlindungan terhadap kemungkinan gigi berlubang juga berkurang.

copyright Republika