Berbicara tentang kesehatan gigi atau penyebab gigi berlubang, Prof Dr Kauko K Makinen, Guru Besar Kedokteran Gigi Universitas Turku, Finlandia mengatakan, ada tiga faktor utama yang menyebabkan gigi seseorang berlubang, yaitu adanya bakteri Mutans Streptococci (Mutans S), karies, dan gula. ''Gigi berlubang disebabkan oleh ketiga faktor tersebut,'' ujar Makinen saat menjadi pembicara dalam diskusi sekaligus peluncuran produk Lotte dengan nama Xylitol, permen karet pertama untuk kesehatan gigi dan mencegah gigi berlubang, Kamis (1/3) di Jakarta.
Mutans S, kata Makinen, adalah biang dari semua penyebab kerusakan gigi. Bakteri ini, lanjutnya, timbul atau tinggal di dalam mulut setelah seseorang mengunyah makanan atau makanan ringan. Mutans S bekerja menyerap sisa gula yang tinggal dipermukaan dan di sela-sela gigi ketika seseorang menyelesaikan makan.
''Mutans S kemudian membentuk koloni di lapisan plak dan berkembang biak. Dialah yang memfermentasi gula menjadi senyawa asam. Lalu, senyawa asam secara perlahan menggerogoti lapisan email pelindung gigi sehingga terbentuklah lubang pada gigi,'' kata anggota Penelitian Kerusakan Gigi Eropa ini.
Untuk mencegah kerusakan atau terjadinya gigi berlubang, kata Makinen, dapat dilakukan dengan meningkatkan penggunaan Xylitol -- sejenis pemanis alami-- dalam sebuah produk minimal 50 persen dari keseluruhan kandungan pemanis. Xylitol terkandung dalam berbagai jenis serta kayu, seperti kayu pohon white birch, dan berbagai bahan makanan yang dikonsumsi manusia. Adapun sumber nutrisi yang tinggi kandungan Xylitol adalah plum, raspberi, stroberi, kembang kol dan bayam, yaitu sekitar 0,3-0,9 gram/100 gram.
Makinen menambahkan, pemanis alami (Xylitol) dapat menekan jumlah bakteri penyebab kerusakan gigi. ''Jika kandungan Xylitol memiliki atom karbon (pentitol) lebih sedikit, maka bakteri kariogenik yang menjadi penyebab kerusakan gigi seperti Mutans S tidak akan dapat berkembang biak. Karena pemanis yang terkandung di dalam berbagai serat tadi tidak disukai oleh bakteri Mutans S,'' ujarnya.
Selain mampu menekan jumlah bakteri, Xylitol juga dapat mencegah keasaman plak dan mempercepat proses pembentukan kembali mineral gigi. ''Jika kondisi karbohidrat di dalam mulut meningkat, dan pH plak gigi menurun, maka kondisi ini makin memperbesar terkikisnya mineral gigi,'' ujar Makinen. ''Selain dapat menetralisir keasaman plak, air liur juga berfungsi membentuk kembali lapisan mineral gigi yang terkikis oleh senyawa asam,'' jelasnya.
Sementara itu, Widijanto Sudhana, Dokter Gigi FKG Universitas Trisaksi menyebutkan, angka kerusakan gigi di Indonesia, berdasarkan survei kesehatan yang dilakukan Depkes RI pada tahun 2001 menemukan sekitar 70 persen penduduk Indonesia berusia 10 tahun keatas, pernah mengalami kerusakan gigi. Pada usia 12 tahun, jumlah kerusakan gigi mencapai 43,9 persen, usia 15 tahun mencapai 37,4 persen, usia 18 tahun sebanyak 51,1 persen, usia 35-44 mencapai 80,1 persen dan usia 65 tahun ke atas mencapai 96,7 persen.
Sumber: Republika Online,13/3/2007

Tidak ada komentar:
Posting Komentar