Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati... Begitulah lirik sebuah lagu. Mungkin bagi yang belum pernah sakit gigi tapi sering sakit hati akan mengamini lagu ini. Tapi bagi yang pernah merasakan sakit gigi pasti tidak akan memilih keduanya.
Yup, sakit gigi memang menjadi penyakit yang sering dikeluhkan. Berikut tulisan mengenai sekelumit tentang perjalanan terjadinya penyakit pada gigi dan di sekitar mulut kita.
Menggosok gigi setidaknya dua kali sehari sudah menjadi salah satu ritual keseharian kita.
"Upacara" itu setidaknya mampu mencegah hadirnya plak, biang keladi sejumlah masalah dimulut.
Banyak orang mengaku telah menggosok gigi setiap hari. Namun, mereka masih saja mengeluh dihantam masalah gigi. Entah giginya berlubang, gusi meradang, gigi berkarang, atau mulut bau naga. Lantas, apanya yang salah? Giginya atau cara menggosoknya?
Berawal dari plak
Sejumlah penelitian menunjukkan, penyebab beberapa masalah yang mengenai rongga mulut adalah dental plaque atau plak gigi. Berupa lapisan tipis bening yang menempel pada permukaan gigi, terkadang juga ditemukan pada gusi dan lidah. Lapisan itu tidak lain kumpulan sisa makanan, dan biasanya ditemani segelintir bakteri dan sejumlah protein dari air ludah.
Plak selalu berada di dalam mulut karena bisa terbentuk setiap saat. Ia akan hilang setelah dibersihkan secara mekanik dengan cara menggosok gigi. Akan makin bersih kalau dilanjutkan dengan menggunakan benang gigi.
Bila dibiarkan saja, plak yang menumpuk akan mengalami kalsifikasi, lalu mengeras. Sehingga, terbentuklah karang gigi atau calculus yang keras dan melekat erat pada leher gigi. Itulah sebabnya gigi pada bagian tersebut berwarna kehitaman, kecokelatan, atau kehijauan.
Gangguan yang ditimbulkan oleh karang gigi biasanya lebih parah. Jika dibiarkan menumpuk, karang gigi dapat meresorbsi (menyerap) tulang alveolar penyangga gigi. Akibatnya, gigi menjadi goyang.
Karena tampak oleh mata telanjang dan berhubungan dengan kosmetik, karang gigi lebih sering mencuri perhatian. Sayangnya, kita tidak bisa mengatasinya sendiri. Perlu bantuan dokter gigi untuk menghilangkannya dengan cara scaling. Artinya, ya membuang karang gigi.
Bakteri-bakteri seperti Streptoccus mutans dan Streptoccus sanguine -yang pada keadaan normal memang berada di dalam rongga mulut- juga menimbulkan persoalan. Ketika gerombolan bakteri itu bertemu dengan sisa makanan (khususnya yang mengandung gula sukrosa) berikut enzim dari saliva, akan terjadi reaksi fermentasi yang menghasilkan asam. Bila asam itu terus menerus diproduksi, akan terjadi proses demineralisasi atau pelunakan lapisan email gigi. Karena email melunak, timbullah karies atau gigi berlubang.
Kalau menemukan spot (noktah) putih atau kecokelatan pada gigi, itu pertanda awal terjadinya karies. Semakin lama noktah semakin membesar, membentuk sebuah lubang. Biasanya masih belum ada keluhan rasa sakit pada tahap ini. Namun, ketika proses demineralisasi berlanjut sampai ke lapisan gigi berikutnya, yakni dentin, timbullah rasa ngilu saat terkena rangsangan, terutama ketika minum dingin.Terang saja ngilu karena dentin memiliki pori-pori yang berhubungan dengan jaringan saraf gigi.
Plak pada jaringan gusi yang tidak dibersihkan secara teratur juga dapat mengiritasi gusi sehingga gusi menjadi merah, mudah berdarah, dan terkadang membengkak. Ini gejala awal terjadinya gingivitis (radang gusi). Namun, karena terkadang tidak disertai rasa sakit, gejala itu luput dari perhatian dan cenderung dibiarkan saja. Bila radang gusi terus dibiarkan, gigi bisa goyang, dan akhirnya copot sendiri.
Kalau gigi sensitif
- Bisa terjadi, gigi kita tidak berlubang, tetapi ketika menenggak minuman dingin atau panas, mengunyah makanan manis atau asam, tiba-tiba gigi terasa ngilu. Kalau itu yang terjadi, mungkin gigi kita sensitif.
Gigi sensitif bisa pula akibat terkikisnya email gara-gara memakai pasta gigi yang mengandung bahan bersifat terlalu abrasif. Karena email tererosi, dentin menjadi terbuka, tidak terlindung. Akibatnya, gigi menjadi sensitif bila terkena rangsangan.
Usia tua juga bisa menyebabkan gigi sensitif, gara-gara retraksi (penurunan) gusi yang terjadi secara fisiologis. Gigi sensitif bisa pula timbul setelah dilakukan scaling. Pada saat itu akar gigi terekspos, sehingga peka terhadap rangsangan. Namun, pada kasus ini biasanya rasa ngilu akan hilang dengan sendirinya begitu gusi menutup kembali.
Biasanya, pasta gigi khusus untuk gig sensitif mengandung sodium monofluorofosfat atau strontium klorida. Menurut penelitian, kedua bahan itu akan membantu menutup poripori dentin yang terbuka sehingga melindungi jaringan saraf dari rangsangan suhu atau rasa. Efeknya baru terasa setelah beberapa saat pemakaian dihentikan. Maka pemakaian teratur pasta gigi khusus untuk gigi sensitif ini sangat dianjurkan.
Makanan yang bersifat asam, seperti minuman bersoda dan makanan masam, sebaiknya dihindari. Kandungan asam akan turut meningkatkan suasana asam yang akan mengikis bahan pelindung yang menutup pori-pori dentin.
MENGATASI BAU MULUT
- Pernah dengar istilah halitosis?Ya, itulah nama lain bau mulut.
Bau mulut merupakan hasil metabolisme kuman rongga mulut dan sisa-sisa makanan, yang berupa gas yang disebut Volatile Sulfur Compound (VSCs). Gas ini terdiri atas zat hidrogen sulfid, metil mercaptan, demetil disulfid, dan dimetil sulfid. Zat-zat tersebut selalu dihasilkan dalam proses metabolisme dari bakteri atau flora rongga mulut. Jadi VSCs dalam keadaan normal pasti ada pada rongga mulut semua orang.
Namun, dia akan menjadi masalah ketika terjadi peningkatan kadar VSCs didalam mulut, yakni ketika ada peningkatan aktivitas bakteri anaerob didalam mulut yang menyebabkan bau dari VSCs ini akan tercium oleh indera penciuman. Peningkatan aktivitas itu bisa karena rendahnya kadar oksigen di dalam rongga mulut yaitu saat produksi saliva atau air liur menurun, bisa juga karena adanya karang gigi atau gigi berlubang (karies).
Cara mengatasinya antara lain :
- Jagalah kesehatan dan kebersihan gigi dan mulut dengan menggosok gigi dua kali sehari, pagi dan malam sebelum tidur.- jangan lupa sikatlah juga lidah anda, karena permukaan lidah yang tidak rata memungkinkan adanya sisa makanan tersangkut disana.
- Usahakan sesering mungkin mengonsumsi air putih, tetapi hindari minum kopi karena akan memperparah keadaan.
- Mengunyah permen karet yang sweetless atau yang tidak mengandung gula juga bisa membantu untuk merangsang produksi saliva, terutama bagi mereka yang memiliki saliva kental.
- Mengunjungi dokter gigi anda. Mungkin ada gigi yang berlubang atau ada karang gigi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar